Balada asisten, episode ke 1362

angka tersebut adalah jumlah episode sinetron tersajung (360 eps),
dikombo sama cinta fitri (1002 eps).
gilakkk, sampe ribuan episode? kuwambiiing liyarrr mak onah!!!
sejauh itu ya bangsa gue dibodohin ama si pitri. tega banget.
tsk!

eniweh, emang dasyattt yes balada drama asisten inih.
gak kemana gak dimana deh,
seputaran kehidupan ibu ibu pasti ada ni episode.
entah nenek gue yang punya asisten dari dia muda,
atau bude gue yang asisten nya ngendon disitu dari dia 8 tahun,
sekarang udah punya anak umur 8 tahun juga.
ibu gue yang asisten nya wira wiri gonta ganti personil terus.

terus sekarang jatahnya gue. kwang kwang kwang...
gara gara di berita, kebijakan baru nya jokowi bilang gaji asisten seharusnya...
DUA KOMA DUA JUTA RUPIAH
pas persis sama gaji gue pertama kali dapet kerja di jakarta, 
berbekal fresh graduate lulusan S1 dari PTN. DANG!!!

pagi pagi pas baca ini, gue gak mau langsung panik.
gue baca dengan teliti, kebijakannya, termasuk komen komen orang di artikel itu.
ihihihi... lucu ya orang orang. alhasil alih alih panik gara gara kebijakan ini,
gue jadi ngakak ngakak.

ada yang pro UMP, bilang teruskan, mas joko!
ada yang bilang itu gak realistis. nge gaji asisten segitu, gaji majikan juga harus naik dong.

kalo menurut gue ya... gue loh, ini kan personal blog disclaimer duluk hihihi.
dari sisi gue nih, sebagai employer, sebenernya gak papa juga bayar lebih mahal.
untuk kualitas yang lebih baik dong ya pastinya.
kita kan hire mereka supaya hidup lebih mudah ya...
tapi yang terjadi, kan dunia tak seindah dalam lukisan,
banyak kan kejadian, hire helper malah bikin idup jadi tambah ribet.
silakan bilang "IYA" yang kenceng, ibuk ibuk. hahaha.

pengasuh anak, masih lebih bisa diatur menurut gue, dibanding asisten rumah tangga.
skill-nya lebih ada, apalagi yang berpengalaman. pasti jago deh bujukin anak nangis.
nah kalo asisten rumtang, heuhhh...
yaudah gak usah dibahas ye, nanti malah encok. encok hati.

yet i do understand completely, kalo gak pake helper,
bakal macam mana idup kitakkk?
terutama untuk ibu bekerja, kalo kita liat dari 1 dimensi aja, yaitu waktu untuk perjalanan,
dalam sehari aja minimal 2 jam kebuang buang percuma.
ibu bekerja jakarta cuma bisa melongo liatin jalanan macet, sambil hatinya nahan rindu,
dan berharap anaknya belum keburu tidur & masih bisa main main sebentar sama dia.
sedihhh...

kota jakarta ni sungguh gak proper fasilitasnya,
membuat kita gak bisa menyingkat apa yang HARUSNYA bisa disingkat.
bayangin kalo ada proper public transportation,
traveling time cuma 15-20 menit sekali jalan loh,
karena kota jakarta ngga segede gurun sahara.
itung aja berapa banyak menit yang harusnya bisa dihabiskan sambil peluk pelukan sama si cilik,
atau bacain dia 2-3 buku sebelum dia tidur.
yang harusnya bisa... tapi gak bisa... sedihhh lagi.

kalo gak pake helper, pilihan mungkin ada di childcare ya...
tapi dimanaaa dimanaaa dimaaanaaa... tanya sama ayu ting ting perhaps? 
bisa keitung pake jari kali proper childcare di jakarta.

moreover, to the more extensive housework, ya...
waktu yang kebuang percuma itu kan bisa aja dipake buat nyetrika, atau beresin lemari.
again, mau gak mau, kita harus cari helper.
tapi kalo helper nya aja minimal udah 2 juta, berarti gajian kita musti minimal 30 juta dong ya?
jadi gimana dong pak jokowi?

si pak jokowi ini, di mata gue sih niatnya bagus juga ya.
walaupun tetep careless dan tergesa gesa banget ujug ujug ada aturan ini.
gaktau juga kalo ada udang dibalik batu menyambut 2014 sih yaaa...

kemungkinan, niatnya dia adalah mensejahterakan pekerja yang ada di batas minimum itu.
obviously.
walaupun kayanya kok kayanya gue gak liat adanya studi,
atas seberapa banyak penambahan ini akan bisa seberapa banyak mensejahterakan mereka.
jangan jangan peningkatan upah ini cuma berakhir di 10 bungkus rokok, atau pulsa henfon,
bukanya untuk susu full cream atau tabungan pendidikan anak anak.

on the macro scale, kenaikan upah ini pasti nakutin loh buat investor,
apalagi yang taro pabrik di indonesia.
dengan upah yang lebih mahal, bisa gak tu pekerja indonesia memenuhi kualitas yang lebih tinggi?
otherwise manufacture bisa segampang itu pindahin pabrik ke negara lain, by the way...
kenaikan emang baru terjadi di UMP daerah jakarta saat ini,
i'm kinda sure it only takes a while sampe kenaikan ini menular ke daerah lain.
terus UKM gimana kabarnya dong?
kalo expenses membludak, mereka pasti mikir dua tiga kali untuk boosting up productivity.
terus nanti industri kecil menengah nya stagnan aja, gak ada growth, terus lama lama mati?
how sad.

on the longer term juga, gue liat orang indonesia bakalan tambah males sekolah.
iyadong, sekolah tinggi tinggi, punya skill, dihargain sama aja ama yang unskilled.
huwowww...

everybody deserves a raise, tapi mungkin mustinya dipikirin juga side effect nya,
efek jangka panjang ke industri & ekonomi makro, ke employer,
sampe ke perubahan yang dilalui sama pegawai yang bersangkutan.
change is good, but you have to be really careful not to damage anything,
still, gue kok agak pesimis bahwa ini adalah jalan keluar terbaik.

Comments

on an accounting scale - 2.2 juta itu harusnya tidak termasuk the costs of providing them accommodation, shelter, food and personal appliances seperti pembalut (yang prt-nya perempuan), sikat gigi, sabun etc.

I dare gubernur kita yang nota bene tadinya walikota segede Kemang untuk me-list komponen 2.2jt UMP. I am all for the rights of the marginal, however in a very realistic and fair view from the employer and employees' perspective.

Popular posts from this blog

Ibu dan anak

pregnancy's best buys

Down time and the meltdown