Introducing that bitter thing

called disappointment.

tadinya gue ragu, kapan ya gue musti mengenalkan kekecewaan sama anak anak?
ih kasian ah, masa anak kecil disuguhin yang pait pait gitu...
tadinya sih gue mau let it flow aja, yang kaya gini gini gak usah terlalu direncanain, lah.
tetep pada prinsip: when they're ready, they are ready.

jadi selama ini gue cuma jagain supaya anak gue tetep down to reality,
in the terms of giving them clues, about how things work.
to inject the ideas that everything work in sequence, cause & effect.
kalo mau jelly-harus makan dulu, mau ikut pergi-harus siap siap sendiri,
kalo mainannya gak di clean up-mama kasih ke orang lain aja.
you know, those stuff... cukup efektif untuk anak anak gua,

i guess cause we started early jadi mereka tau nya ya, begitu.
what sets first on our minds biasanya adalah yang paling kita inget,
apalagi kalo ada repetisi, it becomes habit. spertinya sih begitu ya...
lagipula gue kan semi semi diktator, sama adik gue aja diktator,
sama anak, udah pasti. hoahahaha... pasang kumis mang adolf.
untuk anak anak di umur umur awal gini, menurut gue level disiplin harus tinggi.
ruang negosiasi akan dibuka di usia 7 atau 8, once i set the ground rules.
makanya menerapkan disiplin is not really hard for us today,
once mata mamah udah agak judes, they know something is wrong.

back to the disappointment,
of course there are things yang gue gak bisa kasih ke mereka no matter what,
sampai mereka gede, pun, kayanya emang tetep gue gak bisa kasih 'semuanya'.
sebisa mungkin gue ajarin mereka bahwa kita akan kabulkan permintaan mereka,
in the right time, dalam kondisi yang memungkinkan.
untuk arka udah lumayan berhasil sih, kalo dia minta sesuatu, gak kita kabulin,
dia bisa mengerti them he let it go.

nah kinan? masih rada jauh niii, jalannya.
so far, gue perhatiin permintaan dia tuh berkisarnya seputar rebutan mainan arka,
atau persoalan cemilan aja dasar gembul. pingin makan ini, makan itu.
walopun udah bisa tertib dengan aturan "main meal first",
tapi tetep suka besar mata.
Dan kalo gue lihat dia udah kekenyangan, she needs a break dong ya.
nah dia ini, kalo gak dikasih, kecewa dong ya. implementasinya uring-uringan,
marah, gogoleran di lantai, atau ngomomg diulang ulang,
"mama, mau jeli mama. mama kinan mau jeli mama. mama, mau jeli mama."
in my deepest heart, lucu siiih sebenernya hihihi.
udah mana mukanya ponian, matanya besar, airmatanya tumpah,
tangannya gempal minta gendong. kaya gini mukanya...


tapi kan gue gak boleh lonyot yaaa... bisa gagal program kita hohoho.
kalo gogoleran gue diemin aja. jadi dia tau "eh, gak ngaruh ya gue gogoleran."
terus gue pura pura sibuk, sok riang & asik sendiri, so she's like "eh mamah ngapain ya?"
bisanya dia akan berenti gogoleran, terus nyamperin gue, pingin ikut seru-seruan.
kinan baru berenti kalo perhatiannya teralih. hofff...

yes. gue rasa penting ya, mengenalkan yang pait pait ke anak anak,
i need them to bend like a bamboo, facing the disappointment.
untuk tetep kuat kalo jatuh, untuk terima paitnya kalo emang kejadian,
telen, abis itu move forward, be better...
karena harapan tu gak semuanya bisa jadi kenyataan,
mungkin bentuknya cuma gak bisa makan jelly, nilai ujian jelek, putus cinta,
ga dipanggil interview di tempat kerja idaman, and thousands other things.
it's gonna happen whether we like it or not, whether we're ready or not,
since i'm not gonna live forever bukan highlander cyin.
i need to set the game.

the most recent was arka wanted to go onboard an airplane,
gara gara gue ajak nganterin ke bandara... dia pinginnya gak cuma liat pesawat,
dia pinginnya naik.
nah loh...

di mobil, dia udah bilang sambil merengut: "arka mau naik pesawat!"
gue jelasin pelan-pelan, sekarang yang naik mamah aja, arka besok lagi ya.
dia ngga mau: "arka mau ikut mamah!"
duweng...
ahirnya gue bilang tidak agak tegas. tidak mas. tidak bisa naik pesawat hari ini.
abis itu dia diem, matanya jauh ngeliat keluar jendela, bibirnya berkerut turun.
gue juga diem.
pas gue nengok belakang, mukanya merahhh, matanya berkaca kaca hampirrr tumpah airmata.
oh no, my baby was so disappointed.

gue tarik napas walopun pada kenyataanya pingin nangis bareng, 
terus suruh arka masuk ke koper, terus angkut aja ikut gue naik pesawat.
tapi gue coba bicara dengan tenang:
mas, mama ngerti mas pingin naik pesawat. tapi waktunya bukan sekarang.
kita akan naik pesawat kalau sudah ada waktunya, kalau sudah libur,
kalau papah sudah punya uang, kalau nenox udah dateng, blablabla.

does it work? yep. arka nya tenang, dan babay gudbay sama gue di airport.
guenya? lonyottt...
langsung kepikiran pingin ngajak dia jalan jalan naik pesawat. insya allah soon ya mas.

Comments

Popular posts from this blog

Ibu dan anak

pregnancy's best buys

Down time and the meltdown